Upacara Ngaben di Bali, Ritual Kremasi Jenazah Umat Hindu untuk Sucikan Roh
Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara Baleganjur (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat atau suara angklung yang terkesan sedih.
Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan diarak berputar tiga kali berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing.
Selain itu perputaran ini juga memiliki makna berputar tiga kali di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar tiga kali di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar tiga kali di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.
Ngeseng merupakan upacara pembakaran jenazah tersebut. Jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki air oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta.
Setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian dikumpulkan dan dirangkai sesuai posisi tulang belulang itu sendiri pada tubuh saat masih utuh. Rangkaian dilakukan sedapatnya tulang yang terkumpul, tak harus lengkap.