Rugikan Konsumen dan Produsen Otomotif, Asosiasi Pelumas Perangi Oli Palsu
"Masyarakat sulit membedakan mana oli asli dan palsu karena mirip. Ada barcode, segel juga ada, jujur masyarakat sulit membedakan," katanya.
Dia mengungkapkan, untuk membedakan oli pelsu atau bukan bisa dilihat dari harga yang ditawarkan, jika lebih murah dibandingkan harga resminya patut curiga.
"Konsumen tidak bisa membuka botol untuk memeriksanya. Karena membuka botol berarti membeli. Jika kemasan mirip jangan tergiur dengan harga yang murah. Ini tidak sebanding bila mesin mengalami kerusakan. Biaya perbaikannya jauh lebih mahal," ujar Tri.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Bengkel Otomotif UMKM Indonesia (PBOIN), Hermas Efendi Prabowo mengatakan, pihaknya sering kedatangan sales pelumas. Mereka datang menawarkan berbagai merek dan silih berganti.
"Kita tidak mengerti mereka bawa oli benar atau bukan. Namun, kami sebagai orang bengkel tahu saat dibuka dan melihat kualitas oli tersebut," katanya.