RI Berpotensi Surplus 50.000 Perawat di 2029, Pemerintah Siapkan Penyaluran ke Luar Negeri
JAKARTA, iNews.id - Pemerintah menyiapkan strategi penyaluran tenaga kesehatan ke luar negeri. Hal ini seiring proyeksi surplus perawat di dalam negeri yang diperkirakan mencapai lebih dari 50.000 orang pada 2029.
Langkah ini ditandai dengan kerja sama antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melalui pembentukan Migrant Career Center di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
"Sinergi dengan KP2MI sangat penting untuk memfasilitasi tenaga kesehatan kita agar bisa berkarier secara profesional di mancanegara dengan perlindungan hukum dan kesejahteraan yang pasti," ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono di Kemenkes, Jumat (3/4/2026).
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat sistem penyiapan melalui pembentukan Migrant Career Center di 38 Poltekkes yang akan menjadi pusat layanan terpadu bagi calon pekerja migran sektor kesehatan.
Indonesia Darurat Perawat Onkologi, Ini Faktanya!
“Pembentukan Migrant Career Center di 38 Poltekkes akan menyediakan ekosistem informasi menyeluruh, termasuk skema pembiayaan, demi memperkuat daya saing pekerja migran Indonesia di pasar internasional,” ujar Wamen P2MI Christina Aryani.
Usai Teror Penembakan KKB, 9 Guru dan Perawat di Koroway Dievakuasi ke Sentani
Indonesia memiliki potensi besar dengan 38 Poltekkes yang meluluskan lebih dari 42.000 tenaga kesehatan setiap tahun. Namun, tingginya jumlah lulusan belum sepenuhnya terserap pasar kerja domestik maupun global.
"Kita akan menghadapi surplus lulusan keperawatan di Indonesia sebanyak 50.000 orang pada tahun 2029. Saat ini, baru sekitar 10 persen yang terserap bekerja di luar negeri. Artinya, ada potensi 90 persen lagi yang sangat besar untuk kita maksimalkan," tutur Dante.
Data menunjukkan sejak 2021 terdapat permintaan sekitar 33.000 tenaga kesehatan dari berbagai negara seperti Jepang, Jerman, Arab Saudi, dan Qatar. Namun, Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan tersebut.
Bahkan, dalam tiga tahun terakhir, hanya sekitar 1.100 lulusan Poltekkes yang berhasil menembus pasar global. Kesenjangan ini disebut bukan karena kompetensi klinis, melainkan kesiapan nonteknis yang masih terbatas.
Kerja sama ini juga mencakup pertukaran data dan sosialisasi migrasi aman untuk mencegah penempatan nonprosedural, sekaligus membuka akses informasi yang lebih luas terkait peluang kerja di luar negeri.
Direktur Jenderal SDM Kesehatan, Yuli Farianti, menegaskan pentingnya jalur penempatan yang jelas dan aman bagi lulusan tenaga kesehatan.
“Selama ini banyak lulusan kita yang punya potensi, tetapi belum memiliki jalur yang jelas untuk ke luar negeri. Dengan kerja sama ini, kita ingin memastikan jalur itu ada, jelas, dan aman,” pungkas Yuli.
Editor: Puti Aini Yasmin