Pertempuran Ambarawa: Sejarah, Latar Belakang dan Tokohnya
Pasukan sekutu yang berada di Magelang pun mulai ditarik ke Ambarawa dengan lindungan pesawat tempur pada tanggal 21 November. Namun pada tanggal 22 November pasukan sekutu mulai melakukan pengeboman terhadap kampung-kampung yang berada di sekitar Ambarawa.
Hal itu berhasil memukul mundur pasukan TKR ke kuburan Belanda, Mereka pun terpaksa bertahan di sana dengan membentuk garis medan sepanjang rel kereta api, yang membelah kota Ambarawa.
Pasukan TKR yang berada di Magelang pun melakukan serangan fajar, dengan tujuan untuk memukul mundur sekutu dari desa Pingit dan merebut desa-desa disekitarnya, di bawah pimpinan Imam Androngi.
Dalam pertempuran Ambarawa, dekutu dikepung oleh 3 Batalyon yang berasal dari Yogyakarta, yaitu batalyon 10 Divisi III di bawah pimpinan Mayor Suharto, batalyon 8 di bawah pimpinan Mayor Sarjono, dan Batalyon Sugeng.
Tidak berniat menyerah, sekutu berusaha mematahkan kepungan dengan mengancam keududkan pasukan Indonesia dengan tank-tanknya. Pasukan pun terpaksa kembali mundur ke Bedono.