Paradoks Robot Biohibrida: Memenuhi Hasrat Eksistensi vs Ancaman Kepunahan
Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika realitas film tersebut benar-benar hadir di tengah peradaban manusia: robot-robot yang semakin biologis? Malavika Madgula (2025) dalam "Biohybrid Robots Are Here. Is Humanity Prepared?" menyebut robot semacam itu sebagai sebagai robot biohibrida, gabungan antara material sintetis dan material hidup. Secara teoritis, penciptaannya berasal dari organ, anggota tubuh, bahkan organisme hidup. Dia merujuk proses selanjutnya dari laporan penelitian Jianzhong Xi, Jacob J Schmidt, dan Carlo D Montemagno (2005), berjudul "Self-assembled Microdevices Driven by Muscle".
Laporan yang menjadi rujukan tulisan di atas, menguraikan bahwa sel-sel individual tumbuh dan merakit diri menjadi berkas otot yang terintegrasi dengan struktur mikromekanik. Ini dapat dilepaskan secara terkendali, yang memungkinkan pergerakan bebas. Setelah mewujudkan perakitan tersebut dengan kardiomiosit, didemonstrasikan dua aplikasi potensial, yakni transduser gaya yang mampu mengarakterisasi sifat mekanik otot secara in situ dan perangkat mikro hibrida, biotik/abiotik yang merakit diri sendiri, yang bergerak sebagai konsekuensi dari kontraksi kooperatif kolektif berkas otot. Karena pabrikasi perangkat mikro silikon tidak bergantung pada perakitan sel otot selanjutnya, sistem ini sangat serbaguna dan dapat mengarah pada integrasi sel maupun jaringan dengan berbagai struktur mikro lainnya.
Seberapa mungkin teori di atas dapat diwujudkan? Sangat mungkin, tegas Madgula. Pada 2014, peneliti dari Universitas Illinois berhasil menciptakan robot renang mikroskopis dari sel otot jantung tikus. Pada 2016, peneliti dari Harvard melangkah jauh dengan membuat "hewan" biohibrida pertama, berupa seekor ikan pari sepanjang 16 mm. Makhluk ini bertubuh elastomer dengan kerangka emas dan otot yang juga terbuat dari sel tikus. Bentuk tubuh yang memungkinkannya meluncur di air, dengan gerakan yang dikendalikan cahaya. Sedangkan yang terbaru, pada tahun 2024 tim dari Universitas Tokyo merancang robot biohibrida kecil yang dapat berjalan dengan cara jalan manusia. Karenanya, walaupun keberadaannya masih berskala laboratorium, robot-robot biohibrida itu telah hadir di tengah peradaban manusia. Maka persoalan berikutnya, apakah umat manusia siap untuk menghadapinya, seraya mampu benar-benar berbagi kehidupan dengan robot-robot itu?
Jawabannya mungkin tergambar sebagai temuan uncanny valley, lembah ketaknyamanan, yang dikemukakan ahli robotika Jepang, Masahiro Mori pada tahun 1970. Dalam "What to Know About the Uncanny Valley: Why AI and Computer Generated Characters Often Look So Creepy" tulisan Kendra Cherry, 2025, disebutkan fenomena yang disebut Mori sebagai bukimi no tani genshō. Yaitu ketika orang-orang menganggap robot buatannya lebih menarik jika tampak lebih manusiawi.
Namun ketertarikan itu bertahan hingga di titik tertentu, yang kemudian diganti oleh munculnya lembah ketidaknyamanan. Orang-orang merasa tidak nyaman, terganggu, dan terkadang merasa takut ketika artefak teknologis itu makin menyerupai dirinya. Ketidaknyamanan yang serupa tanggapan evolutif, menolak ancaman penyakit maupun kematian. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang menyerupai manusia tetapi tak sepenuhnya hidup, terbangkitkan perasaan seakan bertemu dengan yang mati atau sekarat. Ini tidak nyaman.
Bisa jadi ketidaknyamanan itu disebabkan oleh terancamnya eksistensi manusia. Sifat biologis dari yang teknologis, mengancam dirinya. Paradoksnya, saat manusia mampu mewujudkan eksistensi diri dengan menciptakan tiruan yang serupa dirinya, di saat yang sama pula terancam eksistensinya. Namun diuraikan Masahiro Mori, dari semua proses dan relasi yang panjang, lembah akhirnya terlewati. Manusia mampu menoleransi keberadaan robot-robot di tengah hidupnya.
Namun tetap paradoks bukan? Atau manusia memang makhluk paradoks?
Editor: Maria Christina