Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kembangkan Robot AI, Hyundai Gandeng Google DeepMind dan NVIDIA
Advertisement . Scroll to see content

Paradoks Robot Biohibrida: Memenuhi Hasrat Eksistensi vs Ancaman Kepunahan

Jumat, 24 April 2026 - 15:46:00 WIB
Paradoks Robot Biohibrida: Memenuhi Hasrat Eksistensi vs Ancaman Kepunahan
Dr. Firman Kurniawan S., Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital & Pendiri LITEROS.org. (Foto: Dok Pribadi)
Advertisement . Scroll to see content

Dr. Firman Kurniawan S.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
Pendiri LITEROS.org

MENIRU “yang alamiah” tampaknya merupakan hasrat yang melekat pada manusia dalam mewujudkan eksistensinya. Peniruan ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menggunakan tubuhnya sendiri hingga melibatkan perangkat untuk menghasilkan artefak teknologis. Melukis: menyalin keindahan bunga dan bentang alam; menari: mengimitasi gerakan satwa yang sedang mempersiapkan keturunan; menulis sastra maupun teater: sebagai upaya membangun pemahaman imajinatif tentang kehidupan.

Menciptakan karya realis (semirip yang alamiah) sebagai representasi eksistensialisme mencapai puncaknya ketika manusia mampu menciptakan tiruan dirinya sendiri. Sejarah panjang menunjukkan bahwa peniruan yang kian kompleks mewadahi hasrat imitatio Dei. Manusia selalu ingin menirukan kemampuan Tuhan, termasuk kemampuan mencipta-Nya. Upaya ini ditempuh dengan meniru yang alamiah, hidup, berakal, bahkan menyerupai dirinya. Robot adalah salah satunya.

Penciptaan robot sebagai imitatio Dei ini senada dengan pernyataan Misa Rygrova (2018) dalam "I, Robot — We, God". Dia menyebutkan, saat manusia mengajari robot menjadi seperti dirinya, mereka berperan sebagai Tuhan. Menciptakan sesuatu yang sesuai dengan penampilan dan seleranya. Bahwa ciptaan tersebut kelak akan memakan apel dan memahami perbedaan antara yang baik dan yang jahat, hanya masalah waktu.

Pernyataan tersebut dapat ditafsirkan bahwa peniruan merupakan hasrat untuk menyerupai Tuhan sebagai modus eksistensial. Prosesnya berjalan bertahap dan kian lama kian berkembang. Seiring waktu, kemampuan itu makin serupa dengan kemampuan Tuhan. Rygrova menambahkan, manusia tampaknya tidak mampu menghentikan dirinya sendiri. Mereka ingin berpura-pura tidak bodoh dengan semua yang dilakukannya. Manusia tampak lebih baik daripada sebenarnya, karena itu nyaman dan mudah. Peniruan adalah perilaku panjang manusia yang tak ada titik hentinya, bertendensi mewujudkan kemanusiaannya.

Kembali pada karya-karya realis yang diciptakan dengan tendensi imitatio Dei bertahap itu, tampilannya juga dapat disaksikan sebagai karya perfilman. Anton Bitel (2022) dalam "10 Great Robot Films" mencatat, istilah "robot" pertama kali digunakan dalam drama karya penulis Czech, Karel Čapek, pada tahun 1920. Judulnya "RUR, Rossum's Universal Robots". Dalam bahasa Čapek, robot berarti buruh atau budak. Pengertian ini sesuai dengan posisi narasinya, robot adalah automata mekanis yang dirancanang untuk menjalankan tugas-tugas manusia sebagai majikannya. Film bertema robot pertama, menurut Bitel, adalah "The Golem: How He Came into the World" (1920) karya Paul Wegener dan Carl Boese. Disusul Metropolis (1927) karya Fritz Lang. Sementara Ex Machina (2014) karya sutradara Alex Garland tercatata sebagai karya penting ke-10 dalam ulasan Bitel.

Dari ulasan tersebut terlihat adanya konsistensi narasi dalam merepresentasikan imitatio Dei sebagai robot dalam film. Kemampuan robot menyerupai manusia memang dapat diuji melalui Turing Test, Voight-Kampff, dan berbagai metode lainnya. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, film-film tersebut berpola serupa, secara bersamaan juga menguji kemanusiaan karakter nonrobot di sekitarnya.

Karakter nonrobot itu termasuk penonton yang diukur tanggapan emosionalnya, berdasar kisah yang ditampilkan di layar. Indikasinya jangkauan empatinya, bahkan ketika seluruh kisahnya fiksi belaka. Robot-robot yang tampil dibandingkan penonton, merepresentasikan batasan kemanusiaan yang kabur. Robot memang berbeda dari manusia, tapi punya hal yang serupa. Baik manusia maupun robot, sering menginginkan "yang dimiliki" pihak lain. Robot menginginkan yang dimiliki manusia, kebebasan, perasaan, maupun bentuk fisiknya. Ini akhirnya menciptakan persaingan robot dengan manusia. Begitu polanya.

Pola relasi robot dengan manusia tersebut diuraikan Aaron Prather (2025) dalam Hollywood vs. The Robotics Industry". Hollywood sejak lama menggambarkan robot dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai ciptaan yang mengagumkan sekaligus mengancam umat manusia. Narasi ini membentuk persepsi khalayak, sehingga sering memaknai robot dengan curiga. Namun pada kisah lainnya tak terhindarkan, adanya visi penuh harapan. Robot sebagai penolong dan pendamping, menambal kelemahan manusiawinya. Tampaknya, Hollywood menggambarkan relasi robot dengan manusia dalam pola cinta dan benci. Seluruhnya itu, representasi dari perasaan manusia itu sendiri. 

Yang tergambar jelas dari seluruh penampilan robotnya, ada pergeseran. Robot ditampilkan makin biologis. Saat sebelumnya robot hadir sebagai artefak nonbiologis, penuh logam, gerakan berat kaku yang terpatah-patah dan suara mendengung hasil pabrikasi mesin, maka dalam "The Terminator" (1984), ciri biologisnya menonjol. Jaringan hidup seperti kulit, pembuluh darah yang menonjol di bagian luar tubuh, menutup struktur dalam artefak teknologis ini. Ciri biologis itu makin nyata pada serial "Better Than US" yang diedarkan di Rusia pada 2018. Alih-alih sekadar cantik dan adaptif terhadap perasaan manusia, robot Arisa juga mampu mengekspresikan tindakan emosi kecemburuan dan melindungi "keluarga".

Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika realitas film tersebut benar-benar hadir di tengah peradaban manusia: robot-robot yang semakin biologis? Malavika Madgula (2025) dalam "Biohybrid Robots Are Here. Is Humanity Prepared?" menyebut robot semacam itu sebagai sebagai robot biohibrida, gabungan antara material sintetis dan material hidup. Secara teoritis, penciptaannya berasal dari organ, anggota tubuh, bahkan organisme hidup. Dia merujuk proses selanjutnya dari laporan penelitian Jianzhong Xi, Jacob J Schmidt, dan Carlo D Montemagno (2005), berjudul "Self-assembled Microdevices Driven by Muscle".  

Laporan yang menjadi rujukan tulisan di atas, menguraikan bahwa sel-sel individual tumbuh dan merakit diri menjadi berkas otot yang terintegrasi dengan struktur mikromekanik. Ini dapat dilepaskan secara terkendali, yang memungkinkan pergerakan bebas. Setelah mewujudkan perakitan tersebut dengan kardiomiosit, didemonstrasikan dua aplikasi potensial, yakni transduser gaya yang mampu mengarakterisasi sifat mekanik otot secara in situ dan perangkat mikro hibrida, biotik/abiotik yang merakit diri sendiri, yang bergerak sebagai konsekuensi dari kontraksi kooperatif kolektif berkas otot. Karena pabrikasi perangkat mikro silikon tidak bergantung pada perakitan sel otot selanjutnya, sistem ini sangat serbaguna dan dapat mengarah pada integrasi sel maupun jaringan dengan berbagai struktur mikro lainnya. 

Seberapa mungkin teori di atas dapat diwujudkan? Sangat mungkin, tegas Madgula. Pada 2014, peneliti dari Universitas Illinois berhasil menciptakan robot renang mikroskopis dari sel otot jantung tikus. Pada 2016, peneliti dari Harvard melangkah jauh dengan membuat "hewan" biohibrida pertama, berupa seekor ikan pari sepanjang 16 mm. Makhluk ini bertubuh elastomer dengan kerangka emas dan otot yang juga terbuat dari sel tikus. Bentuk tubuh yang memungkinkannya meluncur di air, dengan gerakan yang dikendalikan cahaya. Sedangkan yang terbaru, pada tahun 2024 tim dari Universitas Tokyo merancang robot biohibrida kecil yang dapat berjalan dengan cara jalan manusia. Karenanya, walaupun keberadaannya masih berskala laboratorium, robot-robot biohibrida itu telah hadir di tengah peradaban manusia. Maka persoalan berikutnya, apakah umat manusia siap untuk menghadapinya, seraya mampu benar-benar berbagi kehidupan dengan robot-robot itu? 

Jawabannya mungkin tergambar sebagai temuan uncanny valley, lembah ketaknyamanan, yang dikemukakan ahli robotika Jepang, Masahiro Mori pada tahun 1970. Dalam "What to Know About the Uncanny Valley: Why AI and Computer Generated Characters Often Look So Creepy" tulisan Kendra Cherry, 2025, disebutkan fenomena yang disebut Mori sebagai bukimi no tani genshō. Yaitu ketika orang-orang menganggap robot buatannya lebih menarik jika tampak lebih manusiawi.

Namun ketertarikan itu bertahan hingga di titik tertentu, yang kemudian diganti oleh munculnya lembah ketidaknyamanan. Orang-orang merasa tidak nyaman, terganggu, dan terkadang merasa takut ketika artefak teknologis itu makin menyerupai dirinya. Ketidaknyamanan yang serupa tanggapan evolutif, menolak ancaman penyakit maupun kematian. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang menyerupai manusia tetapi tak sepenuhnya hidup, terbangkitkan perasaan seakan bertemu dengan yang mati atau sekarat. Ini tidak nyaman. 

Bisa jadi ketidaknyamanan itu disebabkan oleh terancamnya eksistensi manusia. Sifat biologis dari yang teknologis, mengancam dirinya. Paradoksnya, saat manusia mampu mewujudkan eksistensi diri dengan menciptakan tiruan yang serupa dirinya, di saat yang sama pula terancam eksistensinya. Namun diuraikan Masahiro Mori, dari semua proses dan relasi yang panjang, lembah akhirnya terlewati. Manusia mampu menoleransi keberadaan robot-robot di tengah hidupnya. 

Namun tetap paradoks bukan? Atau manusia memang makhluk paradoks?

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut