Mengenal Roehana Koeddoes, Pahlawan dan Jurnalis Perempuan yang Berani Bersuara
JAKARTA, iNews.id - Roehana Koeddoes menjadi jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang mendobrak keterbatasan zaman lewat tulisan dan keberaniannya. Lahir di Sumatera Barat, Roehana mendirikan surat kabar Soenting Melajoe pada tahun 1912, sebuah media yang menjadi corong aspirasi perempuan di masa kolonial.
Sudah jelas, sebagai perempuan yang berani bersuara di masa itu, perjalanan kariernya tidaklah mudah. Ia harus berhadapan dengan stigma sosial demi mengangkat derajat kaum wanita melalui pendidikan dan kemandirian ekonomi. Tak hanya melalui tulisan, suara perempuan zaman itu juga ia gaungkan dan perjuangkan melalui yayasan Amai Setia yang ia bentuk.
Keberanian dan peran krusial Roehana Koeddoes kini menjadi refleksi dan inspirasi bagi banyaknya jurnalis perempuan di masa kini. Salah satunya adalah Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang juga merupakan seorang jurnalis perempuan sebelum ia melangkahkan kaki sebagai menteri di Kabinet Merah Putih.
Ia menyebut, Roehana Koeddoes menjadi salah satu inspirator dirinya saat menjadi jurnalis. Meutya membayangkan bagaimana tantangan yang dihadapi Roehana Koeddoes saat menjadi jurnalis di zaman kolonial untuk menyuarakan hak perempuan. Hal itu menjadi dasar keberanian dirinya menjadi jurnalis yang tangguh di berbagai medan liputan.
Komdigi: Pemerintah Komitmen Jaga Ekosistem Pers Sehat di Tengah Disrupsi Teknologi
Meutya menceritakan berbagai pengalaman liputan dirinya yang cukup menantang. Seperti saat ia dikirim ke Aceh dan Irak pada masa konflik. Keberanian dirinya timbul karena mencontoh keberanian Roehana Koeddoes.