Terinspirasi Roehana Koeddoes, Meutya Hafid Cerita Tantangan Jadi Jurnalis Perempuan di Daerah Konflik
JAKARTA, iNews.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengenang kembali perjalanan kariernya sebagai jurnalis perempuan sebelum terjun ke dunia pemerintahan. Dia mengaku banyak menghadapi tantangan, terutama saat menerima penugasan ke wilayah konflik yang kerap dipertanyakan hanya karena faktor gender.
Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat dirinya dikirim ke Aceh pada 2003, ketika wilayah tersebut masih berada dalam status Darurat Militer. Penugasan itu sempat memicu perdebatan internal di kantornya.
"Ketika saya mulai aja ketika saya dikirim ke Aceh misalnya waktu itu Darurat Militer di Aceh tahun 2003 itu di kantor tuh heboh. Kenapa seorang perempuan dikirim ke daerah konflik?” ujar Meutya saat memberikan sambutan dalam Diskusi Film 3 Wajah Roehana Koeddoes di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Tantangan serupa kembali muncul ketika Meutya ditugaskan meliput ke Irak. Penugasan tersebut bahkan berujung pada insiden penyanderaan yang kala itu juga dikaitkan dengan statusnya sebagai jurnalis perempuan.
Hati-Hati Kejahatan Digital, Meutya Hafid Imbau Para Ibu Ekstra Proteksi Anaknya
"Alhamdulillah lancar, banyak mendapat apresiasi kemudian dikirim ke Irak tambah heboh lagi. Kenapa seorang perempuan dikirim ke Irak? Dan ketika disandera semua orang mengatakan itu kan perempuan sih. Jadi faktor disandera nya aja sempat ada perdebatan gitu ya di kantor bahwa kalau kalau laki-laki mungkin enggak disandera,” katanya.
Menurut Meutya, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena banyak jurnalis laki-laki dari berbagai negara juga mengalami risiko serupa di wilayah konflik. Meski begitu, dia menegaskan semua tantangan tersebut justru memperkuat mental dan keberaniannya sebagai jurnalis.
Dukung Infrastruktur Digital, Menkomdigi Meutya Bagikan Laptop untuk 15 Koperasi Merah Putih di Malang