Jeda Keraguan: Jalan Menghadapi Pabrik Realitas Buatan Deepfake
Dr. Firman Kurniawan S.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
Pendiri LITEROS.org
MUNGKIN terlalu terlambat untuk menyampaikan ucapan: "Selamat Hari Pers Nasional" kepada seluruh insan pers di Indonesia. Upacara peringatan yang dipusatkan di Banten sudah berlangsung setidaknya 10 hari lampau. Tema HPN tahun ini: Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Semoga menjadi mantra yang menginspirasi seluruh pihak yang berkepentingan dengannya.
Namun demikian, tak ada salahnya berbagi perspektif. Perspektif soal tantangan yang dihadapi "pabrik realitas" ini di tengah kedigdayaan artificial intelligence (AI). Pers memang pabrik realitas. Dari informasi yang diformulasikannya, merahnya mawar dan kencangnya lari macan tutul memburu mangsanya. Juga dahsyatnya air bah maupun runtuhnya dinding tebing yang mengubur perkampungan akibat deforestasi yang semula tak terpikirkan khalayak, mampu dihadirkan pers.
Hanya saja, kemampuan mempabrikasi realitas itu kini makin dibayang-bayangi AI. Termasuk dengan produk deepfake-nya yang menjangkau hiperrealitas dan sulit dikenali pancaindra. Pers berhadapan dengan pabrik realitas lain yang mampu dengan dahsyat menciptakan kepalsuan.
Ini salah satunya: Deepfake Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan kritis soal dana desa. Disebutkannya, "Dana desa cuman bikin foya-foya kepala desa. Sepertinya sejak dana desa dihapuskan, kadesnya yang paling menderita. Sejak ada dana desa, kadesnya jadi kaya-kaya. Sawah, tanah di mana-mana. Lebih baik dana desa dialokasikan buat infrastruktur di pedalaman. Karena selama ini dana desa banyak yang disalahgunakan. Selain itu, manajemen dan pola pikir kepala desa dalam mengolah dana desa, tidak mengerti tujuan dan manfaatnya… ".