Jebakan Algoritma dan Distorsi Realitas Penanganan Bencana
Indikasi-indikasi terjadinya krisis multidimensional tampak bermunculan. Selain rasa lapar dan tak jelasnya nasib pascabencana yang mengendap di benak korban, muncul sikap dengan aneka penyimbolan. Pengibaran bendera putih yang menyiratkan putus asa menanggung penderitaan, disusul maraknya pengibaran bendera sebuah gerakan maupun lontaran rasa kecewa terhadap penanganan bencana yang dilakukan. Jika seluruhnya bukan kekhawatiran yang berlebihan, tampaknya bukan sekadar krisis sosial yang dihadapi. Gulungan emosi yang tak tertangani cepat dapat memicu krisis ke segala arah.
Seluruh persilangan realitas akibat pabrikasi unggahan media sosial, juga oleh jebakan algoritma, sesungguhnya bukan gejala baru. Shami Malik, 2024, lewat "Reality of Social Media", mengilustrasikan adanya dua orang yang berbeda, dengan relasi yang kuat. Relasi yang bahkan terbentuk sejak masa kecil keduanya. Namun ketika keduanya mengakses dunia lewat perangkat berbeda yang dimilikinya, realitas yang dihayatinya juga berbeda. Masing-masing punya bagian dunia yang dipilih untuk dihayati. Unggahan yang dikonsumsi juga akibat umpan algoritmanya, membentuk dunianya.
Itu pula yang terjadi pada khalayak yang mengikuti bencana Sumatra, memilih realitas cair yang dihadapinya. Seluruhnya kemudian berimplikasi pada pandangan terhadap cara pemerintah menangani bencana. Pasti ada distorsi. Namun di manakah menemukan realitas yang sejati, agar distorsi itu tidak lebar?
Editor: Maria Christina