Jebakan Algoritma dan Distorsi Realitas Penanganan Bencana
Perhatian khalayak yang tertancap pada penanganan bencana, diwujudkan sebagai intensifnya perbincangan. Traffic media sosial pada unggahan yang bertema Bencana Sumatera, terindikasi tinggi. Temanya mulai soal penyebab bencana, yang bukan semata disebabkan alam; kesigapan pemerintah mengelola keadaan darurat, dibanding bencana-bencana sebelumnya; keresahan terhadap pernyataan dan aksi tokoh, yang dianggap nirempati; hingga dilangsungkannya penggalangan “warga menolong warga”, demi meringankan beban korban. Di balik semua itu, tersirat posisi yang saling berhadapan.
Acuan informasi yang digunakan masing-masing pihak, juga berbeda. Ini misalnya: saat seorang menteri menanggapi perintah Presiden, untuk segera memulihkan pasokan listrik. Disanggupinya, listrik akan segera tersedia kembali. Lampu-lampu di 93% wilayah bencana, bisa cepat menyala lagi. Dengan pulihnya pasokan listrik, nyata: upaya penanganan bencana maju bertahap. Namun tak lama setelah dinyatakan, ucapan menteri itu dibantah. Khalayak mengunggah keadaan senyatanya dari lokasi bencana yang menunjukkan wilayahnya masih gelap gulita, pasokan listrik nihil. Nyala yang dijanjikan hanya berlangsung sesaat, selama Presiden meninjau lokasi bencana. Sepeninggalnya, listrik padam lagi.
Demikian juga, saat makin kerap muncul pernyataan keadaan di lokasi bencana makin baik. Para korban bencana tangguh dan sanggup menjalani keadaan terbatas di pengungsian. Karenanya, Pemerintah Indonesia tak memerlukan bantuan asing. Sistem di dalam negeri, andal untuk memulihkan keadaan. Pernyataan ini pun disanggah. Khalayak mengedarkan unggahan, belum memadainya kebutuhan dasar korban. Minimnya makanan, air bersih, dan tempat bermukim sementara yang layak. Yang juga kerap terunggah, indikasi rasa putus asa korban. Ini ditandai dengan dikibarkannya bendera putih di depan permukiman warga. Bendera yang menyimbolkan sikap menyerah, terhadap keadaan yang makin sulit. Bahkan, Gubernur Aceh Muzakir Manaf sampai harus mengirim surat kepada PBB, mengajukan permintaan pertolongan bagi warganya.
Masih banyak persilangan yang terjadi, bahkan hingga hari ini. Dapat dibandingkan sajian realitasnya yang saling bertolak belakang. Seluruhnya memperebutkan rasa percaya khalayak. Penanganan yang terus membaik versi pemerintah, beserta bukti-bukti penguat realitas. Di hadapannya, realitas versi khalayak, juga disertai bukti-bukti yang membentuk kepercayaan.
Khalayak saat dikaji lebih dalam, punya karakteristik proses pembentukan realitas yang beragam. Karakterisitik pertama, khalayak yang bersanak-kerabat dengan korban di wilayah bencana. Kelompok ini terbentuk realitasnya terhadap bencana, saat cemas tak tahu nasib kerabatnya. Kerabat yang berhari-hari gagal dihubungi, membuatnya cemas. Bertambahnya jumlah korban yang dinyatakan tewas maupun hilang menaikkan kecemasan itu. Gulungan emosi menyebabkan kelompok ini menghayati bencana sebagai keadaan yang kian memburuk. Alih-alih membaik, seperti pernyataan pemerintah.