Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Maruli Minta Media Beritakan Penanganan Bencana Sumatra: Tak Selesai dengan Menangis
Advertisement . Scroll to see content

Jebakan Algoritma dan Distorsi Realitas Penanganan Bencana

Jumat, 19 Desember 2025 - 13:45:00 WIB
Jebakan Algoritma dan Distorsi Realitas Penanganan Bencana
Dr. Firman Kurniawan S, Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Pendiri LITEROS.org (Foto: Dok Pribadi)
Advertisement . Scroll to see content

Kedua, khalayak yang berasal dari kelompok peduli nasib korban. Kelompok ini ingin segera bertindak nyata, memberikan pertolongan. Aktivitasnya dimulai dari pengumpulan donasi; mendatangi korban dan memberikan bantuan; menyediakan tenaga yang dibutuhkan di lokasi bencana; hingga mencoba memulihkan fungsi ekonomi wilayah. Ini adalah kelompok relawan. Realitas yang dihadapi kelompok ini, akses ke wilayah bencana sangat sulit. Bahkan mustahil ditembus. Seluruhnya lantaran putusnya jaringan internet. Fasilitas yang dapat digunakan untuk mengetahui keadaan awal korban, maupun kebutuhannya dari jarak jauh. Ini diperparah oleh tiadanya pasokan listrik, maupun putusnya jalan raya dan jembatan. Seluruhnya hancur lebur, tergulung dahsyatnya material yang berlalu bersama air. Gerak cepat yang direncanakan, sulit diwujudkan. Kemudian terbangun realitas parahnya keadaan bencana dengan minimnya bantuan. Keadaan makin memburuk bersamaan dengan bertambahnya waktu. Ini menimbulkan kekhawatiran. 

Sedangkan kelompok ketiga, adalah khalayak yang bukan berasal dari kategori pertama maupun kedua, namun intensif mengikuti bencana. Ini adalah posisi netizen yang terbanyak, menonton di luar arena, namun membentuk realitas. Karena jumlahnya sangat besar, spektrum subkarakteristiknya juga beragam. Mulai dari yang politis hingga apolitis, juga yang propemerintah hingga yang oposisional terhadap pemerintah. Penghayatannya dalam membentuk realitas, bergerak bagai pendulum. Bergantian dari unggahan versi pemerintah ke unggahan dari korban maupun relawan di lapangan. Walaupun informasinya dari dua sumber yang berbeda, namun keteguhan persepsinya tak mudah digoyahkan. 

Jika sejak awal menerima realitas “penanganan bencana terus membaik”, sikapnya akan tetap seperti itu. Sikap ini diikuti produksi, distribusi dan konsumsi unggahan untuk meeguhkan rasa percayaanya. Sebaliknya, jika yang diterima "penanganan bencana tak memadai", unggahan-unggahan yang merusak persepsinya, bakal ditepis. Konsisten terhadap realitas yang dihayati, akan membuatnya nyaman. Pada kenyataannya, dua pilihan sikap itu dapat terbentuk akibat perangkap algoritma. Tak sadar, realitas yang dihayati adalah pabrikasi algoritma platform. Namun demikian, produksi, distribusi maupun konsumsi unggahan oleh kelompok ini, menyumbang realitas yang diterima luas. Realitas yang silih berganti, untuk dihayati.  

Implikasinya, menjawab apakah penanganan bencana dilakukan dengan memadai atau tidak, tak mudah dijawab. Unggahan pembentuk realitasnya, sangat riuh. Seluruh rangkaiannya menyajikan versinya masing dan punya alasan untuk dipercaya. Akhirnya jadi paradoks. Saat tersedia berbagai versi untuk dipercaya, berarti tak ada realitas yang dapat dijadikan sebagai acuan. Realitas cair ini tergantung penghayatan para pengikutnya.

Keadaan realitas yang sulit dijadikan sebagai acuan itu dapat mengubah krisis. Krisis yang semula diakibatkan bencana berkekuatan alam menjadi krisis berkekuatan sosial. Ini juga terjadi di berbagai lokasi bencana di dunia. Misalnya rasa lapar, akibat lama tak memperoleh pasokan makanan memunculkan penyerbuan pada tempat-tempat yang diduga menyimpan makanan dan kebutuhan hidup; terjadinya kekerasan terhadap sesama korban bencana yang hidupnya dianggap lebih baik; juga pengadangan dan perampasan bantuan yang sedang didistribusikan. Walaupun seluruhnya dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan hidup, konflik sosialnya memperburuk upaya pemulihan bencana. Penanganan yang cepat jadi kunci untuk mencegah terbukanya pintu, menuju krisis multidimensional.  

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut