Indonesia Harus Siap Hadapi Kemungkinan Buruk akibat Perang di Iran, Persatuan Nasional Jadi Kunci
Negara yang Runtuh Lebih Cepat
Namun, tidak semua negara memiliki kemampuan yang sama untuk menahan guncangan energi. Negara dengan struktur ekonomi rapuh akan menjadi korban paling awal. Contoh paling nyata adalah Pakistan. Negara Asia Selatan ini mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan energinya dan sangat bergantung pada gas alam cair dari Qatar, pasokan yang kini terganggu akibat konflik regional.
Bagi Pakistan, kenaikan harga energi bukan sekadar statistik ekonomi. Ini berarti kenaikan harga listrik, bahan bakar, dan kebutuhan pokok yang secara langsung membebani rumah tangga. Inflasi dapat melonjak tajam sementara pertumbuhan ekonomi melambat.
Ironisnya, bank sentral Pakistan tidak memiliki ruang kebijakan yang fleksibel. Alih-alih menurunkan suku bunga untuk membantu perekonomian, mereka kemungkinan justru harus menaikkannya guna menahan inflasi. Inilah dilema klasik ekonomi krisis: antara menyelamatkan pertumbuhan atau menahan kenaikan harga.
Para Pemenang yang Tak Terduga
Di sisi lain, krisis ini juga menciptakan pemenang ekonomi. Negara-negara produsen minyak di luar zona perang berpotensi meraup keuntungan besar dari lonjakan harga energi. Negara seperti Norwegia, Rusia, dan Kanada berada dalam posisi relatif aman. Mereka tidak menghadapi ancaman serangan rudal atau drone, tetapi tetap menikmati keuntungan dari harga minyak yang tinggi.
Situasi ini memperlihatkan realitas keras ekonomi geopolitik: krisis bagi satu kawasan sering kali menjadi peluang ekonomi bagi kawasan lain.