BI Ungkap Pemicu Rupiah Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Siap Jaga Stabilitas
"Jadi, kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap US Dollar," kata Denny saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Adapun, pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026), nilai uang rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat tipis 0,08 persen ke posisi Rp17.950 per dolar AS.
Meski begitu, secara pergerakan harian (intraday), mata uang AS tersebut sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.009 pada sekitar pukul 14.12 WIB.
Menghadapi tekanan eksternal tersebut, Denny menegaskan bahwa bank sentral akan mengambil langkah preventif dan tidak tinggal diam. BI siap mengerahkan seluruh instrumen bauran kebijakan demi membentengi stabilitas rupiah dengan bersiaga mengawal pasar selama 24 jam penuh, baik pada jaringan pasar luar negeri maupun domestik.
Langkah yang diambil bank sentral mencakup operasi intervensi pada tiga lini pasar keuangan strategis sekaligus menjalin komunikasi dua arah secara intensif dengan para pelaku pasar modal.