Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Sekjen PBB: Ini Momen Genting Dunia
WASHINGTON, iNews.id - Sekjen PBB Antonio Guterres memberi peringatan terkait berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir Amerika Serikat (AS) dan Rusia, New START. Berakhirnya perjanjian penting pengendalian pengerahan senjata nuklir kedua negara itu memicu kekhawatiran luas akan stabilitas keamanan global.
Guterres bahkan menilai situasi ini sebagai momen paling genting dalam beberapa dekade terakhir.
Perjanjian New START resmi berakhir pada 4 Februari, menyudahi satu-satunya kesepakatan yang selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir dua kekuatan terbesar dunia. Berakhirnya New START terjadi pada waktu yang sangat buruk.
“Berakhirnya pencapaian selama beberapa dekade ini tidak mungkin terjadi pada waktu yang lebih buruk. Risiko penggunaan senjata nuklir adalah yang tertinggi dalam beberapa dekade,” kata Guterres, seraya menyinggung pernyataan Rusia terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis di awal perang Ukraina.
Trump Tolak Tawaran Putin Perpanjang Kesepakatan Nuklir AS-Rusia New START
Seruan pengekangan juga datang dari NATO. Seorang pejabat aliansi pertahanan pimpinan AS itu meminta semua pihak bertanggung jawab dalam penggunaan senjata nuklir serta mengecam retorika nuklir Rusia yang dinilai tidak bertanggung jawab.
Presiden AS Donald Trump menyerukan dibuatnya kesepakatan nuklir baru setelah berakhirnya New START. Trump menginginkan perjanjian baru yang lebih modern dan berjangka panjang, bahkan mendorong agar China ikut dilibatkan. Namun Beijing menolak dengan alasan kekuatan nuklirnya masih jauh di bawah AS dan Rusia.
Perjanjian Senjata Nuklir AS-Rusia New START Berakhir, Ini Kata Trump