Pasukan Israel Ditipu Pimpinan, Dikirim Perang dengan Jumlah Personel dan Tank Tak Sesuai Janji
"Ini bukan brigade penuh. Mereka jauh dari itu," bunyi laporan yang dikutip pada Kamis (23/7/2026).
Seorang komandan pasukan cadangan yang identitasnya dirahasiakan mengatakan publik dan para pengambil keputusan mendengar bahwa brigade penuh telah dikirim ke Lebanon. Namun kenyataannya, pasukan yang diterjunkan hanya merupakan formasi dengan kekuatan jauh lebih kecil.
"Jumlah tentara, tank, dan kendaraan jauh lebih rendah," ujarnya.
Menurut Army Radio, militer Israel tidak lagi memiliki cukup tank siap tempur. Banyak tank rusak akibat pertempuran dan dinonaktifkan sehingga sejumlah kompi lapis baja terpaksa beroperasi dengan jumlah kendaraan di bawah standar kebutuhan.
Sejak Oktober 2023, Israel terlibat operasi militer di berbagai front, termasuk Jalur Gaza dan Lebanon. Selain itu, Israel juga berulang kali melancarkan serangan ke Suriah serta memperluas operasi militernya di Tepi Barat. Operasi yang berlangsung di banyak wilayah tersebut semakin membebani personel dan perlengkapan militer.
Army Radio juga menyoroti metode militer dalam menghitung tingkat kehadiran pasukan cadangan yang dinilai berisiko menimbulkan gambaran keliru. Unit yang dilaporkan memiliki tingkat kehadiran 50 hingga 70 persen, dalam praktiknya disebut beroperasi dengan kekuatan yang jauh lebih rendah pada waktu-waktu tertentu.