Duh! Air, Tanah dan Udara di Gaza Diduga Terkontaminasi Zat Berbahaya akibat Ulah Israel
Abdel Shafi menambahkan, tanpa evaluasi lingkungan besar-besaran setelah gencatan senjata, warga Gaza berpotensi hidup dalam paparan zat berbahaya dari waktu ke waktu, bahkan setelah perang berhenti.
Tanah dan Udara Ikut Tercemar
Selain air, tanah pertanian Gaza pun diduga turut terkontaminasi. Lapisan tanah yang menjadi sumber pangan bagi ratusan ribu keluarga kemungkinan telah bercampur dengan residu logam berat dan bahan peledak. Jika dugaan ini benar, Gaza bukan hanya menghadapi kelaparan saat ini, tetapi juga krisis pangan jangka panjang karena produktivitas tanah menurun.
Kontaminasi udara juga menjadi ancaman serius. Debu dari runtuhan bangunan, sisa bahan peledak, dan partikel logam yang terangkat ke atmosfer dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan penyakit kronis, terutama bagi anak-anak.
Pemulihan Lingkungan yang Mustahil Tanpa Bantuan Dunia
Meski gencatan senjata telah berlaku, Israel disebut masih melanggar kesepakatan dengan melakukan serangan harian, termasuk pada Rabu (19/11) yang menewaskan sedikitnya 23 orang di Kota Gaza, Rafah, dan Khan Younis. Situasi yang tidak stabil ini menyulitkan upaya pemulihan lingkungan.
Palestina menegaskan bahwa rekonstruksi Gaza bukan hanya membangun kembali rumah dan rumah sakit, tetapi juga memerlukan program dekontaminasi lingkungan besar-besaran. Tanpa itu, Gaza berisiko menghadapi krisis kesehatan publik yang lebih mengerikan dibanding masa perang.
Dengan 288.000 keluarga hidup dalam kondisi darurat, akses makanan dibatasi, dan bantuan kemanusiaan hanya masuk 28 persen dari jumlah yang disepakati, isu lingkungan kini menjadi ancaman tambahan yang memperparah penderitaan warga.
Bencana lingkungan di Gaza ini menunjukkan bahwa konflik bukan hanya merenggut nyawa dan bangunan, tetapi juga meninggalkan luka panjang pada tanah yang seharusnya menopang kehidupan.
Editor: Anton Suhartono