Menurut dia, banyak tantangan yang membuat terhambatnya proses penambangan mineral berharga di Afghanistan di masa lalu. Tantangan itu antara lain mencakup masalah keamanan, kurangnya infrastruktur, dan kekeringan parah yang melanda negeri itu.
Baru Tiba di Inggris, Bocah Pengungsi Afghanistan Tewas usai Jatuh dari Lantai 9 Hotel
Para ahli percaya ada minat yang tumbuh dari negara-negara seperti China, Pakistan dan India, yang mungkin mencoba untuk terlibat dan memanfaatkan sumber daya Afghanistan yang besar itu, meskipun terjadi kekacauan di sana. “Ini menjadi tanda tanya besar,” kata Schoonover.
Bahkan sebelum Presiden AS Joe Biden mengumumkan akan menarik pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan awal tahun ini—yang dianggap sebagai tindakan menyiapkan panggung untuk kembalinya kendali Taliban—prospek ekonomi negara itu tetap suram.
Taliban Merapat ke China, Persilakan Beijing Bantu Pembangunan Afghanistan
Pada 2020, diperkirakan 90 persen warga Afghanistan hidup di bawah tingkat kemiskinan yang ditetapkan pemerintah, yaitu hanya memperoleh penghasilan sebesar 2 dolar AS per hari, menurut laporan US Congressional Research Service yang diterbitkan pada Juni lalu. Dalam profil negara terbarunya, Bank Dunia mengungkapkan, ekonomi Afghanistan tetap dalam kondisi yang rapuh dan sangat tergantung pada bantuan asing.
Namun, penemuan tentang kekayaan mineral Afghanistan, yang dibangun berdasarkan survei sebelumnya yang dilakukan oleh Uni Soviet, tampaknya telah menawarkan janji besar. Apalagi, permintaan logam seperti litium dan kobalt, serta elemen tanah jarang seperti neodimium, melonjak di saat banyak negara mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi ramah lingkungan lainnya untuk memangkas emisi karbon.