Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, China Ogah Diseret-seret
Advertisement . Scroll to see content

Amnesty: 2019 Adalah Tahun Represi dan Perlawanan di Asia

Kamis, 30 Januari 2020 - 09:42:00 WIB
Amnesty: 2019 Adalah Tahun Represi dan Perlawanan di Asia
Nicholas Bequelin, Direktur Divisi Asia Timur dan Pasifik di Amnesty International. (FOTO: AFP/A. WALLACE)
Advertisement . Scroll to see content

Ketika mereka dihadapi dengan represi dan kekerasan polisi, warga Hong Kong kemudian memprotes kekerasan itu dan menuntut penyelidikan terhadap aparat keamanan. Aksi-aksi protes menentang penyalahgunaan kekuasaan dan otoritas aparat keamanan sekarang bisa disaksikan bermunculan di banyak tempat.

Di India, jutaan orang menggelar unjuk rasa menetang sebuah undang-undang baru, yang mendiskriminasi warga muslim. Di Afghanistan, warga turun ke jalan menuntut berakhirnya konflik bertahun-tahun yang memecah belah dan menghancurkan negara itu.

Di Pakistan, gerakan Tahaffuz menggelar aksi damai menentang represi penguasa dan memprotes aksi-aksi pembunuhan ilegal dan kasus-kasus penghilangan paksa.

Kelompok minoritas menderita didera intoleransi dan nasionalisme picik

Di India dan China, pemerintah bereaksi keras terhadap kelompok minoritas. Sedikit saja mereka bersikap menentang, reaksi yang datang sangat keras, juga di kawasan yang disebut memiliki otonomi. Kelompok minoritas sering dilihat sebagai ancaman terhadap persatuan dan keamanan nasional.

Di Povinsi Xinjiang, China, sekitar satu juta orang dimasukkan ke kamp-kamp deradikalisasi.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut