Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Fakta-Fakta Penyiksaan Israel terhadap Aktivis GSF: Disetrum hingga Pelecehan Seksual
Advertisement . Scroll to see content

Aktivis GSF Kisahkan Kekejaman Tentara Israel, Dipukuli hingga Disetrum

Jumat, 22 Mei 2026 - 08:19:00 WIB
Aktivis GSF Kisahkan Kekejaman Tentara Israel, Dipukuli hingga Disetrum
Para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) dari berbagai negara mengungkapkan perlakuan tentara Israel terhadap mereka selama dalam penahanan (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

ISTANBUL, iNews.id - Para aktivisGlobal Sumud Flotilla (GSF) mengungkapkan perlakuan tentara Israel terhadap mereka selama dalam penahanan. Israel membebaskan 422 aktivis misi kemanusiaan Gaza dari 44 negara tersebut pada Kamis (21/5/2026) setelah ditangkap sejak Senin lalu.

Misi GSF terbaru ini diikuti oleh 422 aktivis dari 44 negara yang berangkat dari pelabuhan Marmaris, Turki, pada 14 Mei lalu menggunakan sekitar 50 kapal.

Mereka diterbangkan dari Israel ke negara fasilitator, Turki, untuk kemudian dipulangkan ke negara masing-masing.

Dokter asal Australia, Bianca Webb-Pullman, aktivis Prancis Adrien Jouan, dan aktivis Belgia Arno Meyne, mengungkapkan pengalaman mereka selama penahanan yang mengerikan tersebut.

Mereka mengungkap berbagai penyiksaan, seperti disetrum, dipukul dan ditendang, serta penyiksaan fisik lainnya.

Webb-Pullman bergabung dengan GSF, bersama beberapa petugas medis Australia lainnya, untuk mengirim bantuan kemanusiaan dan medis ke Jalur Gaza.

Dia berinisiatif berangkat ke Gaza setelah mengetahui perlakuan buruk Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya serangan terhadap layanan kesehatan.

Menurut Webb-Pullman, perlakuan pasukan Israel terhadap GSF cukup agresif. Bahkan kapalnya sempat ditembaki.

Selama penahanan, para aktivis diperlakukan kasar. Saat diturunkan dari apa yang disebutnya sebagai "kapal penjara", para aktivis diseret keluar ke pelabuhan dalam posisi yang menyiksa.

“Kami ditahan di sana selama lebih dari 1 jam, sementara tentara Israel memutar lagu kebangsaan berulang kali, dan mereka mengatakan, ‘Selamat Datang di Israel' seraya bersikap brutal terhadap semua orang (aktivis),” katanya.

“Mereka memukuli, menendang orang-orang, dan ini berlangsung sepanjang proses di dermaga, sangat merendahkan martabat,” ujarnya, kepada Anadolu, dikutip Jumat (22/5/2026).

Dia menegaskan, para aktivis GSF dari seluruh dunia bukan penjahat, melainkan datang untuk membantu warga Gaza yang membutuhkan.

“Kami bukan penjahat. Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan. Maksud saya, hewan, Anda masih akan memberinya air,” ujarnya, menunjukkan para aktivis dibiarkan kehausan dan kelaparan.

Militer Israel juga tidak memberikan perawatan medis apa pun, meski para aktivis terus mengalami kekerasan.

“Banyak rekan medis saya mengalami kekerasan parah, dan dipaksa untuk merawat pasien di atas kapal tanpa dukungan medis dari IOF,” katanya.

Aktivis Prancis, Adrien Jouan, menunjukkan memar dan luka di tubuhnya.

“Ya, mereka memukuli saya, tapi juga banyak di bagian belakang, di kapal pertama, di kapal penjara, ketika mereka menjemput kami. Dan itu semacam penyiksaan,” kata Jouan.

Dia memastikan seluruh aktivis mengalami kekerasan selama berada di atas kapal penjara.

“Tetapi tetap saja, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan terhadap warga Palestina,” tuturnya.

Jouan menegaskan akan mengambil tindakan hukum terhadap tentara Israel atas perlakuan yang dialaminya serta kepada para aktivis.

“Tidak normal jika mereka dapat melakukan begitu banyak hal ilegal, sehingga kita harus menuntut mereka,” ujarnya.

Jouan mengatakan, beberapa tahanan berlatar belakang Arab atau mereka yang tidak tampak seperti orang kulit putih” mengalami perlakuan lebih keras.

“Beberapa orang Arab, atau beberapa yang tampak bukan orang Eropa kulit putih, dipukuli jauh lebih parah daripada saya, dan disiksa lebih parah,” katanya.

Aktivis Belgia Arno Meyne bahkan mengatakan, banyak aktivis di kapal menderita patah tulang dan trauma kepala. 

Bahkan, dia menyebut beberapa aktivis mengalami pelecehan seksual.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut