10 Negara dengan Kelahiran Terendah di Dunia, Apa Penyebabnya?
Dalam beberapa dekade, terjadi penurunan angka kesuburan yang cukup signifikan. Di Yunani, perempuan telah mengambil banyak peran untuk beradaptasi dengan perubahan di lingkungan masyarakat saat ini, sedangkan dukungan di lingkungan mereka itu terbilang kurang. Adapun terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan bagi masyarakat daerah terpencil yang enggan memiliki anak karena sulitnya meraih akses kesehatan tersebut.
Banyak penduduk Puerto Rico yang bermigrasi dari tiap-tiap kota di negaranya dan mengakibatkan turunnya angka populasi yang cukup memprihatinkan. Selain itu, angka kematian di Puerto Rico juga sama tingginya dengan angka kelahiran. Hal ini berpengaruh besar terhadap penurunan ekonomi di negara itu.
Standar hidup yang tinggi di Portugal, terutama tingkat pendidikan yang berkualitas dan mendukung penuh perempuan dalam memenuhi haknya membuat angka kesuburan mereka menurun. Fokusnya pada hak-hak perempuan terutama pendidikan dan karier menjadi pengaruh bagi rendahnya angka kelahiran.
Faktor penting yang memengaruhi rendahnya angka kelahiran di Spanyol antara lain adalah meningkatnya jumlah penduduk yang melajang atau single, meningkatnya usia rata-rata perempuan dalam memiliki anak pertama, yakni kebanyakan wanita di Spanyol melahirkan anak pertama mereka di usia 30-39 tahun. Faktor lain datang dari ekonomi yang kurang stabil dan tingkat pengangguran yang tinggi membuat penduduk di Spanyol sering berpikir panjang untuk berkeluarga.
Terdapat beberapa perubahan nilai-nilai budaya dan berkurangnya keinginan untuk memiliki anak karena alasan sosial dan ekonomi. Pasangan di Bulgaria rata-rata hanya melahirkan satu anak dan beberapa di antaranya merasa cukup dengan jumlah anggota keluarga kecilnya, sehingga aborsi yang sudah lama dilegalkan kerap terjadi.
Demikianlah 10 negara dengan kelahiran terendah di dunia yang kebanyakan didominasi oleh situasi ekonomi dan sosial yang menahan seseorang untuk memiliki anak. Meskipun begitu, penting diingat bahwa pendidikan seksual penting bagi tiap individu.
Editor: Ahmad Islamy Jamil