10 Negara dengan Kelahiran Terendah di Dunia, Apa Penyebabnya?
Sebagai salah satu dari negara yang kecil dengan wilayah dan penduduknya yang berada di angka pas, tingkat hidup penduduk di sana terbilang tinggi dan sangat berfokus pada karier membuat mereka sulit memikirkan untuk berkeluarga. Pendidikan seks dan pengenalan alat kontrasepsi juga tinggi yang dianggap berhasil membuat penduduk Monako teredukasi dan berhati-hati.
Ada banyak isu mengkhawatirkan di Korea Selatan yang memengaruhi menurunnya populasi di negara tersebut. Tingkat ekonomi yang menyulitkan generasi muda Korea Selatan membuat mereka berpikir panjang untuk berkeluarga. Adanya tekanan yang menimpa mereka mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan tetap sampai kejenuhan dalam menempuh pendidikan tinggi sehingga kebanyakan dari masyarakat Korea Selatan menganut prinsipchild-free atau ketidak inginan memiliki anak karena kekhawatiran di masa depan.
Secara geografis, Andorra merupakan negara kecil yang terletak di sebuah pegunungan. Dari kecilnya wilaya itu, keterbatasan jumlah penduduk yang bisa menempati wilayah itu dapat memengaruhi angka kelahiran. Pendidikan yang berkualitas di Andorra juga mendorong penduduknya mengejar pendidikan lebih lanjut sehingga rencana untuk menikah dan berkeluarga sedikit tertunda.
Banyak generasi muda Jepang yang menolak keras untuk menikah atau memiliki keluarga. Putus asa atas prospek pekerjaan yang suram, dan kurangnya toleransi masyarakat terhadap anak kecil. Banyak juga pasangan yang ragu untuk memiliki anak karena biaya yang semakin mahal.
Di Taiwan, terdapat tren sosial yang sangat memengaruhi angka kelahiran yang rendah, seperti menikah terlambat, tidak menikah, tidak memiliki anak, dan memiliki anak di usia lanjut. Faktor-faktor tersebut menyebabkan tingkat kesuburan total di Taiwan lebih rendah.