2. Menambah raka’at shalat malam setelah tarawih adalah diperbolehkan, karena tidak ada pembatasan jumlah raka’at untuk shalat malam. Ibnu ‘Abdil Barr menyampaikan:
فَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ المسْلِمِيْنَ أَنَّ صَلاَةَ اللَّيْلِ لَيْسَ فِيْهَا حَدٌّ مَحْدُوْدٌ وَأَنَّهَا نَافِلَةٌ وَفِعْلٌ خَيْرٌ وَعَمَلٌ بِرٌّ فَمَنْ شَاءَ اِسْتَقَلَّ وَمَنْ شَاءَ اِسْتَكْثَرَ
Artinya, “Di antara umat Islam, tidak ada perselisihan bahwa shalat malam tidak memiliki batasan tertentu dalam jumlah raka’at. Shalat malam adalah shalat sunnah dan merupakan perbuatan baik. Seseorang dapat melakukan shalat dengan jumlah raka’at yang sedikit atau banyak sesuai keinginan.” (At-Tamhid, Ibnu ‘Abdil Barr, 21: 69-70, Wizaroh Umum Al Awqof, 1387 dan Al-Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr, 2: 98, Dar Al-Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1421 H)
Bukti yang menunjukkan tidak adanya batasan jumlah raka’at dalam shalat malam adalah dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika ditanya tentang shalat malam, beliau menjawab:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى