Kesehatan Mental Anak Tak Boleh Diabaikan, Kini Skrining Bisa Dilakukan Online
Ayoe melanjutkan, perkembangan emosi anak tidak hanya dipengaruhi faktor biologis, tetapi juga lingkungan tempat dia tumbuh, termasuk pola pengasuhan di dalam keluarga. Karena itu, setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda dalam proses tumbuh kembangnya.
"Ada anak yang memiliki temperamen bawaan mudah (easy child), tapi ada juga yang sulit atau lambat dan butuh adaptasi. Ini semua terkait dengan perkembangan otak di lima tahun pertama," ungkap Ayoe.
Dia menambahkan, "Faktor genetik menyumbang kurang lebih 50 persen pada stabilitas emosi. Tetapi pola pelekatan, gaya pengasuhan, stabilitas emosi orang tua, dan kualitas hubungan pernikahan ikut mempengaruhi perkembangan emosi anak."
Menurut Ayoe, salah satu langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk memantau perkembangan tersebut adalah melalui skrining kesehatan mental dan emosional sejak dini. Kini, proses itu tidak lagi harus dilakukan secara tatap muka karena sudah tersedia layanan skrining berbasis digital.
"Skrining ini bisa menjadi langkah awal jika ditemukan ada penyimpangan atau ada sebagian aspek emosi yang belum berkembang, sehingga orang tua bisa melakukan stimulasi dan terapi sejak dini," katanya.