KDRT Termasuk Penyakit Mental, Bisakah Pelaku Sembuh dan Berubah?
Menurut Amie Zarling, profesor dan psikolog klinis di Iowa State University, pada dasarnya kebiasaan KDRT tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Perilaku negatif tersebut bisa muncul karena akumulasi atau gabungan dari banyak hal. Khusus pada pria, Zarling mencontohkan, kekerasan merupakan cara untuk mengatasi emosi yang tidak menyenangkan, seperti perasaan rapuh, malu, cemburu maupun cemas.
“Kekerasan tidak hanya digunakan untuk mempertahankan dominasi pelaku atas korbannya. Tindakan kekerasan merupakan mekanisme untuk mengatasi tekanan yang mereka rasakan,” jkata Amie Zarling.
Lebih lanjut, Ellen Pence, dari Domestic Abuse Intervention Project (DAIP), sebuah program untuk mengurangi KDRT, mengungkapkan bahwa kekerasan yang didominasi pria muncul karena praktik menahun budaya patriarki. Hal ini mengacu pada sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan dan pemimpin utama dalam banyak hal. Sistem yang melanggengkan dominasi laki-laki tersebut melahirkan banyak bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pria.
Lantas, bisakah pelaku KDRT sembuh?
Menurut Ellen Pence, konstruksi sosial dan politik dari sistem patriarki yang mendarah daging selama ribuan tahun, membuat pria pelaku KDRT sulit menyembuhkan kebiasaan buruk mereka. Bahkan, Pence menyebut, perilaku kekerasaan tersebut tidak dapat dihilangkan dengan metode psikoterapi maupun konseling.
“Sesi terapi dengan profesional rentan membuat pria pelaku KDRT melihat tindakan mereka hanya sebagai produk dari trauma masa lalu maupun masalah lain yang mereka alami,” katanya.