Rupiah Kembali Melemah Pagi Ini, Dekati Rp18.000 per Dolar AS
Menurut analisisnya, eskalasi militer di Timur Tengah menjadi dirigen utama yang memicu kepanikan global, sehingga arus modal dunia berbondong-bondong memburu aset aman (safe haven) dan melambungkan indeks dolar AS.
Ketegangan di ring satu geopolitik meningkat pasca-serangan udara Amerika Serikat ke sejumlah fasilitas penting di Iran, yang diprediksi memicu aksi balasan yang jauh lebih masif dari Teheran.
“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” ucap Ibrahim dalam analisisnya, dikutip Jumat (29/5/2026).
Gejolak perang ini juga membawa risiko nyata berupa disrupsi logistik dan distribusi energi di Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada meroketnya harga komoditas energi global. Harga minyak mentah jenis WTI dilaporkan telah merangkak naik mendekati level 96 Dolar AS per barel.
Melambungnya harga minyak dunia tersebut secara otomatis mempertebal tekanan inflasi global sekaligus membebani neraca perdagangan dalam negeri akibat membengkaknya biaya impor energi Indonesia.