BI Dinilai Perlu Tahan Suku Bunga di 6 Persen, Ini Faktornya
Adapun saran LPEM FEB UI meminta BI menahan suku bunga dengan beberapa pertimbangan, seperti inflasi umum di Indonesia hingga potensi penundaan penurunan suku bunga oleh The Fed.
Pertimbangan pertama adalah inflasi umum meningkat ke 2,75 persen (yoy) di Februari 2024 menyusul peningkatan harga bahan pangan akibat kombinasi tekanan dari sisi permintaan dan produksi. Selain itu, meningkatnya intensitas El Nino mendisrupsi kecukupan pasokan komoditas pangan.
Sejak September lalu, Indeks Nino telah mencapai tingkat di atas 0,5 (mengindikasikan terjadinya El Nino) dan saat ini berada di angka 1,80. Berlangsungnya fenomena El Nino memicu mundurnya musim panen dan mendisrupsi kecukupan pasokan beras.
"Namun, tekanan pada daya beli masyarakat relatif termoderasi dengan adanya pemberian subsidi dan bantuan sosial dari Pemerintah dan Partai Politik menjelang Pemilu Nasional," ucap Riefky.
Lebih lanjut, naiknya inflasi AS secara tidak terduga memicu sentimen bahwa the Fed perlu menunda penurunan suku bunga acuan dari titik tertingginya dalam 23 tahun terakhir. Kondisi ini cukup memengaruhi terjadinya arus modal keluar dari pasar obligasi Indonesia.
Sejak pertengahan Februari, Indonesia mengalami arus modal keluar dari pasar obligasi yang mencapai 1,39 miliar dolar AS. Di sisi lain, tercatat adanya arus modal masuk di pasar saham sebesar 0,50 miliar dolar AS pada periode yang sama.
Seiring dengan terjaganya sentimen positif oleh investor terhadap prospek pertumbuhan Indonesia dan menurunnya ketidakpastian pasca hasil quick-count Pemilu Presiden, arus modal masuk ke pasar saham membatasi keseluruhan nilai arus modal keluar.
Secara kumulatif, Indonesia 'hanya' mengalami arus modal keluar sebesar 0,89 miliar dolar AS selama pertengahan Februari hingga pertengahan Maret 2024. Terlepas dari tingginya tekanan terhadap Rupiah, beberapa minggu terakhir pergerakan Rupiah cenderung stabil.
"Sehingga, kami berpandangan bahwa BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6,00 persen," katanya.
Editor: Aditya Pratama