Ence menjelaskan, bila langkah edukasi dilakukan mulai ke kedai - kedai kopi dan pengelola makanan dan restoran. Harapannya para anak - anak muda yang biasanya nongkrong dan ngopi bisa ikut tergugah mengelola sampah.
"Kami mengajak masyarakat mulai memilah memilih sampahnya mulai kertas, kardus, plastik, botol, pokok yang anorganik. Nanti bisa ditukarkan di empat kedai yang sudah bekerjasama Vosco Coffe, Fugu Coffe, Semat Space, Equal Coffe. Nanti kami akan tukarkan sampahnya, kita kasih free item dan diskon, mulai dari voucher pemotongan harga, produk - produknya variatif, mendapat pembatas buku. Diharapkan bisa meningkatkan masyarakat memilah memilih sampah," tuturnya.
Sementara itu Owner Vosco Coffe Hendi Suryo Laksono menyambut antusias dan mendukung langkah anak - anak muda dalam pengelolaan sampah anorganik. Apalagi dia pribadi menjadi bagian dari komunitas tersebut selama ini kerap kali dibuat bingung mengelola sampah - sampah anorganik.
"Selama ini langsung dibuang, sehingga ada perasaan bersalah. Volumenya tergantung penjualan, selama PPKM memang turun tapi sebelum PPKM sehari bisa 6 - 7 kresek besar, belum termasuk jelantah. Biasanya langsung dibuang ke petugas kebersihan," katanya.
Dirinya berharap adanya iming-iming dari gerakan memanfaatkan sampah anorganik bisa mendorong kesadaran anak muda, turut mengelola sampah - sampah anorganik.
"Dengan ini saya rasa harus ada yang dibenahi, kalau kopi bagian dari gaya hidup, ingin memasukkan pilah dan sortir sampah bagian dari gaya hidup. Anak muda setiap hari ngopi, seharusnya ngopi di rumah punya gaya hidup agar dapat mengelola sampah anorganik ini," kata dia.