Latif menceritakan Konen pembangunan Terowongan Niyama memakan banyak korban dari pekerja romusa. Hal ini terjadi karena terowongan yang dibuat menembus pegunungan dan dibuat dengan peralatan manual oleh tenaga manusia.
“Bisa dibayangkan bagaimana tenaga manusia saat itu dengan peralatan manual harus membuat terowongan yang menembus pegunungan. Otomatis begitu susah, belum lagi pekerja tidak mendapat makanan dan minuman yang memadai dari Jepang,” katanya.
Tak hanya jarang diberi makan, ternyata para pekerja juga tak mendapatkan upah dan jaminan kesehatan yang layak. Para pekerja yang sakit pun masih terus dipaksa bekerja dengan kondisi yang memprihatinkan. Para mandor atau pengawas dari Jepang baru mengizinkan pekerja berhenti bekerja kalau sudah tidak mampu lagi berdiri dan bergerak.
“Jepang kala itu mengeluarkan peraturan kigotai tentang romusa. Bahwa setiap romusa yang sakit tetapi masih bisa berdiri dan berjalan diharuskan untuk tetap bekerja kecuali tidak dapat berdiri dan bergerak,” katanya.
Kisah pilu semakin menjadi lantaran pekerja romusha yang harus berjuang menghadapi gigitan nyamuk malaria dan dinginnya udara hutan di malam hari. Tempat tidur tanpa dinding dan hanya beratapkan jerami, menjadikan banyak pekerja sakit hingga berujung meninggal dunia.