Sandiaga Uno Ungkap Inovasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hadapi Pandemi Covid-19

Vien Dimyati
Inovasi bangkit dari Covid-19 (Foto: Kemenparekraf)

Tak hanya itu saja, 17 subsektor ekonomi kreatif yang juga mengalami dampak dari pandemi Covid-19, nantinya akan diberikan fasilitasi berupa pendampingan dan peningkatan kompetensi, baik dari sektor animasi, film, musik dan lainnya. Hal ini dilakukan supaya pelaku ekonomi kreatif mampu bertransformasi dan beradaptasi di tengah akselerasi digital. 

“Kita ingin betul-betul menyapa 17 subsektor ini. Kita tidak mau ada satu sektor pun yang tertinggal, karena konsepnya adalah no one left behind,” katanya. 

Oleh karena itu, dia mengajak semua pihak untuk bekerja sama dengan seluruh stakeholder dalam pengembangan sektor ekraf ini, atau yang disebutnya sebagai 3G yaitu gercep (gerak cepat), geber (gerak bersama), dan gaspol (garap seluruh potensi untuk menyelamatkan lapangan kerja di sektor ini). “Dan tentunya kita juga akan menciptakan satu pendekatan terkait regulasi untuk memastikan sektor ini mendapat kemudahan dalam menjalankan usahanya,” ujar Sandiaga. 

Lebih lanjut terkait dengan strategi promosi pariwisata, Sandiaga menjelaskan bahwa pihaknya akan mengedepankan promosi wisata mengenai protokol kesehatan dan penerapan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) atau yang Menparekraf Sandiaga biasa sebut K4 (Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Keberlanjutan Lingkungan). 

“Strategi ini dimaksud agar pergerakan mobilitas dari wisatawan nusantara tidak menjadi pemicu peningkatan atau penyebaran Covid-19. Karena persepsi kerumunan dan apa yang terjadi di destinasi wisata merupakan tanggung jawab kita bersama,” kata Sandiaga. 

Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf, Nia Niscaya menambahkan, dynamic content juga menjadi salah satu strategi promosi Kemenparekraf. Di mana strategi komunikasi yang dilakukan harus menyesuaikan dengan kondisi Covid-19 terkini. 

“Misalnya, kalau melihat dari status Satgas Covid-19 suatu destinasi wisata masuk kategori zona hijau, maka kita bisa mempromosikan destinasi wisata tersebut, tapi jika destinasi tersebut zona merah, kita bisa mempromosikan produk UMKM-nya, kita akan mendorong masyarakat agar mengonsumsi produk-produk kreatif lokal,” kata Nia. 

Editor : Vien Dimyati
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Jangan Panik! Ebola Tidak Gampang Menular seperti Covid-19

57 tahun lalu

KUR BRI Bantu Warung Asep Bangkit Lagi, Jadi Penyelamat saat Usaha Terpuruk

57 tahun lalu

Kemenpar Ungkap Vila dengan NIB Meningkat 76,4%, Sinyal Positif Pariwisata RI!

57 tahun lalu

Bhutan Buka Babak Baru Wisata Dunia, Andalkan Konsep Mindfulness dan Turis Berkualitas

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal