Bambang Budi Utomo, seorang peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengatakan, tangan kanan (raksasa itu) diangkat ke atas sambil memegang vajra sedangkan tangan kiri berada di depan dada sambil memegang mangkuk tempurung kepala manusia”.
Dalam aliran Buddha Wajrayana ada upacara tantrayana yang digambarkan sebagai tindakan sadis di mana tidak lepas dari mayat dan minuman keras. Ada juga upacara bhairawa yang dilakukan di atas ksetra, lapangan tempat menimbun mayat sebelum dibakar. Di tempat ini mereka bersemedi, menari-nari, meramalkan mantra, membakar mayat, minum darah, dan tertawa-tawa sambil mengeluarkan dengus seperti kerbau.
Tujuannya agar bisa kaya, panjang umur, perkasa, kebal, dapat menghilang, dan menyembuhkan orang sakit. Agar lebih sakti, mereka berulang-ulang merapal nama Buddha atau Bodhisattwa. Ini dipercaya orang Wajrayana di Padang Lawas untuk membuat perasaan tenang atau mendapat mukjizat dilahirkan kembali atas kekuasaan Dewa yang dipuja (konsep reinkarnasi).
Pada dinding candi, dapat kita temukan relief-relief yang menggambarkan penari dan raksasa, serta kisah Sang Buddha. Akan tetapi, terdapat juga Arca Gayatri di candi ini yang jelas mewakili umat Hindu. Di sini kita bisa merasakan harmoni dan pengaruh Buddha dan Hindu yang berpadu sempurna. Jika masyarakat zaman dulu bisa rukun dalam kehidupan beragama, sampai-sampai berbagi tempat beribadah, kenapa kita tidak? Yuk, mari lestarikan tempat-tempat bersejarah seperti Candi Bahal ini agar generasi selanjutnya dapat belajar dari sejarah.
Candi Bahal sudah resmi dijadikan sebagai objek wisata oleh pemerintah setempat yakni Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara. Tempat ini hanya ramai pada saat-saat tertentu seperti hari libur, Lebaran, atau Tahun Baru. Pengunjungnya adalah masyarakat Luar daerah maupun desa sekitar Padang Bolak dan Barumun.