Mengenal Situs Sejarah Candi Bahal Paluta, Terbesar di Sumatera Utara
Pusat kompleks candi ini yaitu Candi Bahal I, yang merupakan candi utama dan berukuran lebih besar daripada kedua candi lainnya. Arsitektur candi ini mirip dengan Candi Jabung di Probolinggo, Jawa Timur, dengan pondasi, kaki, badan, dan atap yang semuanya terletak di atas dasar persegi panjang berukuran kira-kira 7 meter. Masing-masing candi berbeda-beda dan dihiasi dengan berbagai arca Hindu dan Buddha. Setiap hari Waisak, banyak umat Buddha yang datang ke candi ini untuk beribadah.
Beberapa ahli yang sudah melakukan riset penting di Candi Bahal antara lain Franz Junghun (1846), Von Rosenberg (1854), Kerkhoff (1887), Stein Callenfels (1920 dan 1925), De Haan (1926), Krom (1923), dan F.M. Schinitger yang dikenal berjasa mengungkap sejarah kepurbakalaan di Sumatera.
Arkeolog Jerman F.M. Schinitger tahun 1935 meneliti candi ini berdasarkan prasasti Tanjore yang berbahasa Tamil dan dibuat oleh Raja Coladewa dari India Selatan tahun 1030. Raja ini menaklukkan Pannai merujuk catatan I-tsing. Schinitger menyimpulkan candi ini berkaitan dengan agama Buddha aliran Wajrayana yang berbeda dengan ajaran Buddha sekarang. Hal ini yaitu berciri bengis melihat pada arca berwajah raksasa dengan raut muka menyeramkan.
Begitu pula relief pada dinding candi yang menggambarkan raksasa yang sedang menari dengan tarian tandawa. Ciri-cirinya beringas, bengis, dan cenderung dekat pada upacara-upacara yang sadis. Hal ini diperkuat pula dengan informasi dari beberapa tulisan pada lempengan emas maupun batu yang ditemukan.
Di runtuhan Candi Bahal II ditemukan Arca Heruka, satu-satunya jenis arca sejenis di Indonesia. Penggambarannya sangat sadis dengan setumpuk tengkorak dan raksasa yang sedang menari-nari di atas mayat.