Dalam pekarangan harus ada “bale tengah” bagian atasnya dibuat jineng atau lumbung padi, sebelah Selatan dibangun “bale beten” sedangkan pada sisi Barat tempat dapur dan toilet.
Selain ketiga aturan tersebut, untuk memilih kepala desa atau calon pemimpin desa harus melalui proses mesabar-sabatan biu (perang buah pisang). Di mana calon prajuru menurut adat setempat telah dididik sejak kecil.
Tak cukup sampai di situ, adapun tradisi mageret pandan (perang pandan), di mana dua pasang pemuda akan bertarung di atas panggung dengan saling sayat menggunakan duri-duri pandan. Sebagai bentuk latihan rutin guna menciptakan kondisi masyarakat yang kuat secara fisik maupun mental.
Tempat wisata Desa Pegringsingan
Meskipun dikenal kuat dengan aturan adatnya, Anda bisa melihat lebih dekat kehidupan masyarakat di sini dengan cara mengunjungi Desa Pegringsingan, di mana setiap orang dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp10.000. Namun harga dapat berubah sewaktu-waktu.
Berbelanja kerajinan tangan masyarakat Pegringsingan
Sebagian besar, penduduk Pegringsingan bekerja sebagai petani padi dan ada pula yang membuat aneka kerajinan. Beberapa hasil kerajinan tersebut seperti anyaman bambu, ukiran, dan lukisan di atas daun lontar yang telah dibakar, bahkan kain khas dari Pegringsingan.
Yang lebih istimewanya lagi, kain buatan masyarakat setempat ini menggunakan alat tenun dengan teknik tenun ikat ganda yang mana untuk melakukan teknik ini diperlukan keterampilan khusus untuk membuat satu helai kain tenun. Biasanya, memakan waktu 2,5 sampai 5 tahun, tergantung pada tingkat kesulitan motif kain.