JAKARTA, iNews.id – Meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, dan mahalnya layanan kesehatan membuat masyarakat kelas menengah Indonesia lebih memprioritaskan stabilitas finansial dibandingkan pertumbuhan. Terlebih di tengah situasi eknomi global yang tidak menentu akibat konflik di timur tengah.
Temuan ini terungkap dalam FWD Consumer Outlook Survey yang dilakukan FWD Group Holdings Limited bersama Ipsos. Riset tersebut mengkaji kondisi kesejahteraan finansial, kekhawatiran, hingga kesenjangan perlindungan masyarakat kelas menengah di Asia, termasuk Indonesia.
Hasil survei menunjukkan sekitar 66 persen responden mengaku berada dalam kondisi tertekan secara finansial. Mereka merasa stres, khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan atau belanja sehari-hari.
Tekanan tersebut dipicu sejumlah faktor utama, yakni kenaikan biaya hidup sebesar 70 persen, ketidakpastian pendapatan 43 persen, serta tingginya biaya kesehatan mencapai 40 persen.
Kondisi ini membuat masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Mereka kini lebih fokus menjaga kestabilan finansial dibandingkan mengejar pertumbuhan ekonomi pribadi.