Kucing yang tidak terlalu takut dan lebih mudah beradaptasi berkembang biak karena mendapatkan pasokan manakan yang konsisten. Seiring berjalannya waktu, kucing mengembangkan ikatan lebih dekat dengan manusia.
Berbeda dengan anjing, kucing pada dasarnya menjinakkan dirinya sendiri. Kucing yang dapat menoleransi dan berkomunikasi dengan manusia memiliki keunggulan dalam bertahan hidup, sehingga menghasilkan populasi yang cocok hidup berdampingan dengan manusia.
Untuk memahami proses ini, ada eksperimen rubah yang diternakkan di Rusia. Dimulai pada 1950an, ilmuwan Soviet Dmitry Belyaev dan timnya secara selektif membiakkan rubah perak, mengawinkan rubah yang tak terlalu takut dan agresif terhadap manusia.
Dari generasi ke generasi, rubah-rubah ini menjadi lebih jinak dan ramah, mengembangkan ciri-ciri fisik yang mirip dengan anjing peliharaan, seperti telinga yang terkulai dan ekor yang keriting. Vokalisasi mereka juga berubah, bergeser dari "batuk" dan "dengusan" yang agresif menjadi "tertawa" dan "terengah-engah" yang lebih ramah, yang mengingatkan pada tawa manusia.
Percobaan ini menunjukkan pembiakan selektif untuk kejinakan dapat menyebabkan berbagai perubahan perilaku dan fisik pada hewan, yang dalam beberapa dekade dapat mencapai apa yang biasanya memakan waktu ribuan tahun.