Semifinal ini jauh dari kata indah. Sepanjang pertandingan, laga diwarnai pelanggaran, tarik-menarik, buang waktu, pura-pura cedera, hingga protes berlebihan kepada wasit. Alur permainan terputus-putus dan minim kreativitas, membuat kualitas laga jatuh meski tensi tetap tinggi.
Senegal mendominasi penguasaan bola dengan hampir dua pertiga permainan. Namun dominasi itu tidak mudah diterjemahkan menjadi peluang bersih karena Mesir memilih bertahan total dengan tiga bek tengah, dua gelandang bertahan, dan hampir tanpa ambisi menyerang.
Kesabaran Senegal akhirnya terbayar.
“Kami sabar dan kami tahu kesalahan sekecil apa pun akan dihukum,” kata Mane dikutip dari The Guardian.
“Jadi sejak awal kami mencoba kompak, menekan segera setelah kehilangan bola, memberi tekanan besar, dan tidak kehilangan bola dengan mudah," ujarnya.
Mané mengaku tidak terkejut dengan pendekatan Mesir.
“Setiap tim punya cara bermain sendiri. Itu gaya mereka dan membuat lawan kesulitan. Itulah Mesir,” ujar dia.