Infantino menambahkan, aturan ini bisa diterapkan tepat waktu untuk Piala Dunia musim panas ini, dengan Kongres FIFA mendatang di Vancouver menjadi momen penting untuk membahas langkah-langkah tersebut.
Selain sanksi, Infantino membuka kemungkinan hukuman bisa dikurangi jika pemain bersedia mengaku salah dan bertanggung jawab atas tindakannya.
“Mungkin kita juga harus memikirkan bukan hanya menghukum, tapi juga mengubah budaya, memberi kesempatan untuk meminta maaf. Kamu bisa melakukan sesuatu di saat emosi, minta maaf, dan sanksi harus berbeda untuk maju satu langkah,” kata dia.
Usulan ini menandai langkah radikal FIFA dalam memperketat peraturan anti-rasisme di sepak bola internasional, dan bisa mengubah cara pemain berinteraksi di lapangan, khususnya saat menghadapi situasi kontroversial.
Dengan potensi aturan baru ini, setiap tindakan menutup mulut di lapangan akan berada di bawah pengawasan ketat, dan pemain kini harus lebih berhati-hati karena konsekuensinya bisa langsung berupa kartu merah.