Tengok saja Bagus Nirwanto misalnya. Kapten PSS Sleman itu biasa bermain di depan ribuan fans. Tapi, setelah gajinya dipotong dua, dia beralih menjadi penjual beras curah, dan gula bersama sang istri tercinta.
Di sisi lain, dia seperti para pemain lainnya juga berjuang untuk tetap menjaga kebugarannya, dan berusaha tetap menjaga psikologisnya karena lama tak merumput.
“Saya sangat kecewa karena kompetisi ditunda," kata pemain 27 tahun itu, dikutip AFP.
“Kami sangat bersemangat dan berlatih keras untuk pertandingan pertama kami. Kami seharusnya diizinkan untuk mengadakan pertandingan tanpa penonton,” ucap pria yang menetap di Yogyakarta itu.
Pelatih Barito Putera Djadjang Nurdjaman juga buka-bukaan soal apa arti pembekuan kompetisi itu bagi dirinya dan para pemainnya.