Masalah lain turut memperparah kondisi, termasuk keterlambatan pembayaran gaji staf menjelang Natal serta kerja sama sponsor dengan perusahaan kasino kripto yang tidak memiliki lisensi resmi di Inggris.
Survei dari Foxes Trust menunjukkan kekecewaan mendalam dari fans. Kata-kata seperti kecewa, terasing, dan kehilangan kepercayaan menjadi gambaran hubungan antara klub dan suporter saat ini.
Di lapangan, performa tim juga tidak membantu. Meski memiliki skuad berpengalaman dan anggaran gaji tertinggi di Championship, Leicester tampil jauh dari harapan.
Kesalahan mendasar terus terjadi, mulai dari blunder yang berujung gol lawan hingga kegagalan memanfaatkan peluang emas. Kombinasi ini membuat tim tersebut dianggap sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah klub.
Minimnya semangat juang semakin memperburuk situasi. Berbeda dengan tim Leicester di masa lalu yang dikenal pekerja keras, skuad saat ini dinilai kehilangan karakter tersebut, mempercepat kejatuhan klub ke titik terendah.