Sumardji juga mengungkap komunikasi langsung dengan pemain yang bersangkutan. Dari penjelasan yang dia terima, tindakan tersebut dipicu oleh emosi akibat dugaan rasisme.
“Ada teriakan dari bench, ‘Berto hitam, Berto monyet’. Dari situ dia naik emosi dan melakukan tendangan itu,” jelasnya.
Meski begitu, dia menegaskan tindakan kekerasan tetap tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Pemain harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
“Itu tidak dibenarkan dan tidak boleh dilakukan. Dia harus evaluasi diri dan menerima keputusan Komdis,” katanya.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius di kompetisi usia muda. Selain potensi sanksi dari Komdis PSSI, langkah hukum dari pihak Dewa United membuat persoalan ini berpotensi berlanjut ke ranah yang lebih luas.