Aksi tersebut berujung pada cap “pengkhianat masa perang” dari media dalam negeri Iran. Tekanan pun meningkat, termasuk ancaman terhadap para pemain dan keluarga mereka.
Salah satu pemain dilaporkan menerima pesan suara dari ibunya yang berbunyi: “Jangan kembali [ke Iran]… mereka akan membunuhmu.” Pesan lain yang dikirim keluarga pemain juga berbunyi: “Kamu harus tetap tinggal.”
Pemerintah Australia sempat menawarkan suaka kepada tim karena kekhawatiran terhadap keselamatan mereka. Sejumlah pemimpin dunia juga ikut menyuarakan perlindungan, termasuk Donald Trump yang memperingatkan risiko fatal jika para pemain kembali ke Iran.
Ghanbari bersama enam rekan setim awalnya menerima visa kemanusiaan. Namun, beberapa hari kemudian mereka membatalkannya. Keputusan tersebut disebut dipengaruhi ancaman terhadap keluarga mereka di Iran.
Empat pemain lain juga memilih kembali ke Iran, sementara dua pemain masih bertahan di Australia. Kepulangan Ghanbari sempat digambarkan media pemerintah sebagai tindakan patriotik.
Media pemerintah IRNA menyebut dia “kembali ke pelukan tanah air”, sedangkan kantor berita Mehr menilai langkah tersebut sebagai “keputusan patriotik”. Otoritas juga sempat memberi jaminan tidak ada hukuman.
Namun, penyitaan aset yang kini terjadi menunjukkan perubahan sikap. Selain Ghanbari, sejumlah figur publik lain berpotensi menerima sanksi serupa, termasuk aktor Hamid Farokhnezhad, penyanyi Ashkan Khatibi dan Mazyar Fallahi, serta presenter Parastoo Salehi.