Di level Asian Games, atletik dan renang juga menjadi cabang dengan jumlah medali paling banyak. Dengan banyaknya medali yang bisa diperebutkan sudah sepatutnya Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), PB PASI, pemerintah daerah asal atlet, berkolaborasi dengan NOC serta stakeholders lainnya, selayaknya merancang ulang strategi demi mendulang medali di panggung akbar olahraga.
Mulai dari membenahi usia dini hingga memberikan kemudahan para atlet untuk bisa berkompetisi di panggung internasional sebagai loncatan ke kejuaraan dunia serta ajang akbar multievent.
Mengirimkan atlet muda berbakat ke negara dengan prestasi atletik mentereng seperti AS, layak dicoba. Pada 2018 lalu, Zohri sempat mendapatkan beasiswa ke AS namun PB PASI menyarankan agar atlet asal NTB itu untuk menolak.
Saat itu, Sekretaris Jenderal PB PASI, Tigor Tanjung menyebutkan kuliah di luar negeri akan membuat Zohri kesulitan mengikuti program yang sudah dibuat organisasi menyongsong Kualifikasi Olimpiade 2020.
Tak hanya Zohri, himbuan tidak belajar di luar negeri juga ditujukan kepada atlet atletik lainnya. Meskipun mengakui dengan berada di luar negeri membawa keuntungan karena banyaknya turnamen yang bisa diikuti, tapi saat itu PB PASI menganggap langkah itu tidak efektif untuk pambinaan.