Pelatih asal Indonesia itu juga menilai Aaron/Soh belum sepenuhnya mengendalikan permainan. Mereka sering terlihat terburu-buru ketika mencoba mematikan lawan, sementara pasangan Korea bermain lebih stabil di fase-fase penentuan.
“Aaron–Wooi Yik bermain bagus, tetapi mereka tidak sepenuhnya mengendalikan permainan dan sering terlihat terburu-buru untuk mematikan lawan. Sementara itu, pasangan Korea tampil lebih stabil pada fase-fase penentuan,” tambah Herry IP.
Meski belum bisa membawa anak asuhnya meraih gelar Super 1000 pertama, Herry IP tetap optimistis melihat konsistensi dan perkembangan Aaron/Soh di turnamen besar.
“Di satu sisi, saya kecewa karena belum bisa membantu Aaron–Wooi Yik menjadi juara, tetapi ada juga hal-hal yang memberi dorongan positif dari Birmingham,” ujarnya.
“Saya senang melihat mereka mulai konsisten di turnamen besar dan mampu tetap berpegang pada rencana permainan bahkan ketika berada di bawah tekanan,” pungkas Herry IP.
Kekalahan tipis ini menegaskan posisi Aaron Chia/Soh Wooi Yik sebagai ganda putra top Asia, meski masih ada ruang untuk menyempurnakan pengambilan keputusan di poin-poin krusial.