RPH Giwangan hanya mampu menyuplai daging sapi sebanyak dua ton per hari, padahal kebutuhan daging di Kota Yogyakarta mencapai sekitar enam ton per hari. “Kekurangan pasokan daging sapi dipenuhi dari luar daerah,” katanya.
Meskipun tidak ada catatan sapi dari Kabupaten Gunungkidul yang masuk secara langsung ke Kota Yogyakarta, Sugeng menengarai bahwa sapi tersebut biasanya tercatat sebagai sapi dari Kabupaten Bantul karena Gunungkidul belum memiliki tempat pemotongan hewan.
“Kewaspadaan harus terus ditingkatkan agar masyarakat merasa aman saat mengonsumsi daging sapi. Secara kasat mata, memang tidak bisa dibedakan antara daging sapi yang tertular antraks dengan daging sapi yang sehat. Memang harus di uji laboratorium,” katanya.
Isu mengenai penularan penyakit antraks pada sapi pernah terjadi pada 2017 yaitu sapi dari Kabupaten Kulonprogo DIY. Namun, penularan bisa langsung diantisipasi sehingga tidak semakin menyebar.
Diberitakan, sedikitnya lima ekor sapi ditemukan positif antraks di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Dari kelima ternak itu, tiga di antaranya telah mati, sedangkan dua lagi kondisinya lemas.
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul yang menerima laporan langsung bergerak cepat. Petugas turun ke lapangan dan menyuntik seluruh ternak warga, baik sapi maupun kambing dengan antibiotik dan vitamin untuk menekan penyebarannya.