"Hari itu juga menandakan pembentukan negara dan pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, lengkap dengan elemen pemerintahan, wilayah dan rakyatnya, meskipun istana belum terbangun," ucapnya.
Dalam momen tersebut, Sultan Hamengku Buwono resmi menyatakan wilayah kekuasaannya sebagai 'Ngayogyakarta Hadiningrat' terletak di Hutan Beringan yang juga dikenal sebagai Beringin atau Pabringan, yang terdapat sumber air Pachetokan dan Pesanggrahan Garjitawati.
Awalnya, pembangunan pesanggrahan ini digagas Sunan Amangkurat IV yang meninggal sebelum selesai. Proyek tersebut kemudian diteruskan Sunan Pakubuwana II yang menghasilkan pesanggrahan yang berganti nama menjadi Ayodhya.
Lokasi ini juga berfungsi sebagai tempat istirahat sementara untuk jenazah bangsawan Mataram dari Surakarta sebelum dikebumikan di Imogiri.
"Tanggal 13 Maret 1755 sekaligus menjadi momentum untuk pertama kalinya digunakan nama 'Ayodhya' yang kemudian dilafalkan menjadi 'Ngayodhya' dan 'Ngayogya'. Dari kata inilah kemudian dijadikan nama Ngayogyakarta Hadiningrat, yang berarti tempat yang baik dan sejahtera yang menjadi suri tauladan keindahan alam semesta," katanya.