"Sejarah adalah guru yang terbaik. Dengan kharisma dan kekuatannya, sejarah akan menjadikan umat manusia lebih bijaksana dengan tidak mengulang kesalahan yang sama, sekaligus memberikan bimbingan bagaimana sebuah peradaban harus diatur dan dikembangkan dengan mengedepankan kemanusiaan," katanya.
Dari sisi politis, penetapan Hari Jadi DIY merupakan manifestasi dari kesatuan pemikiran dan dukungan masyarakat, mengukuhkan fakta sejarah dan memperkuat kesepakatan kolektif tentang pentingnya momen ini.
Dukungan dari DPRD sebagai representasi lapisan masyarakat DIY, tidak hanya menguatkan fondasi keistimewaan Yogyakarta tetapi juga memperkaya keberagaman dalam bingkai NKRI.
Dengan merujuk pada rangkaian histori dan nilai budaya, menjadi penegas Hari Jadi DIY dengan berpedoman pada hasil kajian yang disajikan dalam naskah akademik Rancangan Peraturan Daerah DIY. Dengan itu ditetapkan Hari Jadi DIY ditetapkan tanggal 13 Maret 1755 atau dalam kalender Jawa, Kemis Pon tanggal 29 Jumadil' awal tahun Be 1680.
Sultan lantas mengungkapkan mengapa akhirnya pemerintah DIY mengusulkan tanggal 13 Maret 1755 sebagai hari lahir DIY. Dia menceritakan, pada hari tersebut di Hutan Beringan, Sultan Hamengku Buwono secara resmi mendeklarasikan berdirinya 'Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat'.