Lantaran kondisi ini, perajin perak dan tembaga ini tidak mampu lagi bertahan. Beberapa di antaranya memilih menutup usaha dan beralih profesi. Selama ini, usaha kerajinan perak mengandalkan para wisatawan yang datang.
“Kita hanya andalkan dari wisatawan, begitu pariwisata ditutup usaha kami ikut mati,” katanya.
Dampak Covid-19 tidak hanya dialami para perajin dan pengusaha saja. Namun juga para karyawan yang bekerja di sektor ini juga dirumahkan sampai batas waktu tak terhingga.
“Bantuan dari pemerintah belum ada, BLT atau sembako tidak dapat,” katanya.
Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Gunungkidul, Sih Supriyanto mengatakan perajin perak dan tembaga tidak masuk golongan pengusaha mikro dan kecil, namun pengusaha menengah. Dinas juga tidak memiliki anggaran untuk menyalurkan bantuan sosial.
“Dari verifikasi desa, mereka masuk dalam golongan yang mampu sehingga tidak mendapatkan bantuan sosial tunai (BST),” katanya.
Untuk mengatasi permasalahan yang muncul, dinas siap melakukan pendampingan. Dinas Koperasi dan UKM akan membantu dalam proses pemasaran.