Sutedjo melihat keberatan yang disampaikan warga masih dapat dikomunikasikan dan diambil titik temu. Sementara menyoal harga, dia tidak memiliki kompetensi dalam penaksiran.
“Nek iso lego musuh trimo (kalau bisa puas dan menerima) antara yang menentukan dengan warga. Kami hanya berusaha pertemukan dua pendapat yang masih berbeda,” tuturnya.
Sebelumnya, warga Desa Kaligintung belum bisa menerima penawaran tim appraisal pengadaan lahan untuk bandara. Warga erasa tahapan pengadaan lahan tak jelas dan memilih membubarkan diri dalam pertemuan di balai desa tersebut. Apalagi besaran nilai ganti rugi yang disampaikan masih berada di bawah harga pasaran.
Warga berharap agar tahapan penilaiannya dikaji ulang. Banyak warga yang tidak mengetahui selama proses pendataan. Mereka meyakini ada beberapa nilai ekonomis yang belum dihitung dalam penilaian tim tersebut.
“Sebenarnya warga disini mendukung (kereta bandara). Mereka rela melepas tanah untuk kepentingan umum. Tetapi ya harus bemartabat,” kata tokoh masyarakat Kaligintung Wasiludin.
Bahkan sebenarnya, tak ada warga yang ingin menjual lahan mereka. Karena tanah ini merupakan warisan dari nenek moyangnya. Namun di sisi lain, mereka ingin mendukung program pemerintah.