Namun, belakangan mereka lebih melunak. Langkah PT AP I dan Pemerintah Desa Glagah merelokasi makam tidak mendapat kendala. Tidak ada lagi penolakan dari warga dan mereka cenderung bisa menerima.
“Kami melakukan pendekatan satu per satu sehingga mereka membolehkan makam leluhurnya dipindah,” kata Kepala Bagian Pemerintahan Desa Glagah, Jarwo.
Teknik pemindahan makam sesuai dengan kemauan ahli waris. Termasuk jika ada ahli waris yang menginginkan agar makamnya dipindahkan ke lokasi lain selain yang sudah disediakan. Pihak desa dan PT AP I akan berusaha memfasilitasi.
Manager Operational Proyek Bandara Baru PT AP I, Mulyanto mengungkapkan, relokasi makam di Glaga sangat dibutuhkan karena akan digunakan sebagai landside ataupun airside calon bandara NYIA yang ditarget harus selesai enam bulan lagi. “Makam tersebut harus segera direlokasi. Kami akan bekerja 24 jam agar secepatnya selesai,” ujarnya.
Selain direlokasi ke Padukuhan Bebekan, beberapa ahli waris ada yang menginginkan makam leluhurnya dipindah ke makam keluarga di Desa Panjatan. AP I siap memfasilitasi mulai dari transportasi hingga pembuatan galian makam di lokasi makam baru.
Makam di Desa Palihan juga akan direlokasi setelah relokasi di Glagah selesai. Setidaknya ada tiga kompleks makam yang juga bakal direlokasi. “Di Palihan tinggal tiga makam yang tersisa,” katanya.