“Yogyakarta santer dikabarkan menjadi tempat rapat jaringan terorisme dan beruntung tidak ada aksi terorisme di daerah ini,” ujarnya.
Hal inilah yang menjadikan banyak pelaku dan jaringan terorisme yang tertangkap di DIY oleh tim Densus. Bahkan belum lama, ada yang ditembak mati karena berusaha melawan petugas saat penangkapan.
Syamsuddin menilai, untuk mencegah paham terorisme dan radikalisme, kearifan lokal sangat diperlukan. Budaya di Yogyakarta cukup kuat untuk meredam paham radikalisme. “Yogyakarta itu tidak cocok untuk tumbuh kembangnya radikalisme dan terorisme," ucapnya.
Kasubid Pemberdayaan Masyarakat BNPT Andi Intan Dulung menambahkan, penyebaran paham radikalisme dan terorisme tidak hanya sampai ke kampus semata, sudah sampai ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Saat ini banyak anak-anak TK atau Paud yang tidak mau diajak belanja ke mall atau toko modern berjejaring. Mereka memilih belanja di warung tetangga karena paham radikalisme yang diberikan oleh para gurunya. “Kami akan rangkul guru dari semua jenjang pendidikan untuk mencegah paham radikalisme ini,” kata Andi Intan.